DARURAT!!!
22 April 2009 at 15:49 16 comments
DARURAT!!!
Berdasarkan laporan tim aplikasi lapangan minggu lalu (Ahmad & Ihsan) dan pengamatan lapangan langsung di minggu ini (oleh: Isti, Novita, Sinta, Eka dan Ryan) ditemukan indikasi bahwa pertanian kita TERANCAM GAGAL…
Kenapa bisa disimpulkan demikian? Banyak hama-hama nakal yang menyerang tanaman kita… Mulai dari insect2 kecil, ulat daun kecil, besar bahkan sampai ulat bulu (foto2 hama yang manis ini bisa dilihat di liputan kegiatan bindes minggu ini, ke-3 bln april), padahal waktu tanam sudah mencapai 1 bulan.
PANEN BROKOLI TERANCAM GAGAL… (gmn bs ngasilin buah klo daunnya aja abis dimakan ulat). Selain itu, jika dibandingkan dengan pertanian brokoli yang ada di wilayah tsb, pertumbuhan brokoli kita dapat dikatakan lbh lambat (berdasarkan penuturan Bu RW).
Untuk mengantisipasi kegagalan, pada rapat tgl 17 April dikemukakan beberapa pendapat:
Jalankan plan B, yaitu menanam bawang daun di polybag… Dengan alasan melalui penggunaan polybag lingkungan dapat dikontrol, pertumbuhan bawang daun lebih cepat, volum tanah dan penggunaan pupuk dapat terukur jelas (pokoknya mah lebih ilmiah lah… cuma perlu diingat klo yg skrg qt laksanakan adalah program pengabdian masyarakat, bukan penelitian…) Kekurangannya, bawang daun itu tanpa dipupuk pun akan tumbuh (itu sih bbrp alasan yg kemarin dikemukakan tapi belum ada literatur yang jelas).
NAMUN FAKTANYA, kata ibu Isti: panen bawang daun sama aja kya panen brokoli 2 bulan. Tanam brokoli ulang, saran secara tidak langsung dari Sinta dan Nadia dengan pertimbangan Nadia bahwa yang terpenting dari aplikasi lapangan adalah bukti pada masyarakat.. Otomatis mulai dari pengelolaan pertanian sampai komoditas yang digunakan harus disesuaikan dengan pertanian pada umumnya. Isti pikir kita jg msh punya waktu 2 bulan.
Peserta rapat akhirnya memutuskan untuk menjalankan plan B saja yang dimulai minggu dpn tanggal 25 April 2009, disamping meneruskan pertanian yang sudah berlangsung juga menanam bawang daun di polybag.
SEKARANG, COBA TEMAN-TEMAN PERTIMBANGKAN LAGI, BAIKNYA BAGAIMANA (ditunggu comment-nya)…
WHAT MUST WE DO? Dengan mempertimbangkan kesalahan kita sebelumnya, yaitu:
- Penggunaan vermikompos tidak disesuaikan dengan kebutuhan tanaman, maksudnya karena jumlah vermikompos yang digunakan hanya disesuaikan dengan jumlah pupuk kimia yang biasa digunakan (misalnya, klo pakai 60 gr pupuk kimia maka vermikompos yang digunakan juga sebanyak 60 gram), padahal konsentrasi kandungan nutrisi baik yang ada pada pupuk kimia ataupun vermikompos jelas berbeda. Novita bersedia membantu untuk mengkalkulasikan kebutuhan vermikompos utk brokoli.
- Bedeng yang diberi vermikompos pertumbuhannya lambat (kerdil). Hal tersebut bisa terjadi akibat tidak tersinari dengan baik (karena terlalu mepet ke pinggir dan tertutupi tumbuhan singkong) ataupun karena penggunaan vermikompos yang terlalu sedikit (tidak disesuaikan dengan kebutuhan tanaman).
- Tanaman kol, brokoli, brukol merupakan tanaman yang sangat sensitif pada hama ulat, apalagi kondisi lingkungan pertanian di wilayah tsb yang mmg rentan thd hama sehingga pestisida mutlak digunakan. Bahkan, klo nenek Isti tanam kol hampir 2 hari sekali disiangi (diperiksa satu2 daunnya dan dibuang ulatnya) juga diberi pestisida (sampai ulatnya tidak ada), yang pada intinya perlu perawatan ekstra. Namun faktanya, kita baru memberi pestisida (hayati) setelah 1 minggu terserang ulat dan di minggu berikutnya ulat pun masih betah berdiam diri di tanaman. Menurut penuturan Novita juga, klo tanaman sdh terkena hama parah baiknya digunakan pestisida kimia aja krn jauh lebih ampuh. Intinya kesalahan kita adalah tidak diperhatikannya pemberian pestisida, padahal pestisida penting dan intensitasnya bisa sesering mungin klo tanaman sdh terserang hama.
- Ini penuturan yang cukup bagus dari Nadia. Program ini kan program pengabdian masyarakat bukan penelitian dimana kita memindahkan labolatorium ke lapangan sehingga partisipasi masyarakat seharusnya bisa lebih banyak. Posisi kita disini hanya membantu masyarakat yang tertarik untuk menggunakan vermikompos dan menerapkannya di kebun. Berarti, seharusnya masalah pengelolaan pertanian sebaiknya memang menjadi tanggung jawab masyarakat dan kita bantu dari segi keilmuan bagaimana menggunakan vermikompos (salah satunya qita dapat memberi tahu berapa banyak vermikompos yang digunakan untuk berapa hektar tanah). Faktanya, pada pertanian ini cenderung kita yang merawat (mungkin karna dari awal bilangnya pinjem lahan kali y? jd framenya memang qt yang bakal bertani). Waktu kontroling yang cuma sekali seminggu, jelas membuat tanaman brokoli terlantar tanpa perawatan selama 7 hari sampai pada kejadian seperti sekarang.
Sebagai tambahan pertimbangan, di bawah ini ada beberapa tujuan:
- Membuat vermikompos secara mandiri.
- Menerapkan penggunaan vermikompos dalam bidang pertanian sayuran seperti buncis, brokoli, dan labu siam.
- Meningkatkan produktivitas pertanian yang meliputi penghematan biaya pertanian dan peningkatan hasil panen.
Luaran:
- Kemandirian masyarakat dalam memproduksi vermikompos, sehingga kompos produksi lokal dapat dihasilkan.
- Pertanian sayuran yang berkomplementasi dalam penggunaan pupuk kimia dan vermikompos.
- Berkurangnya ketergantungan masyarakat terhadap pupuk kimia.
- Terberdayakannya buruh tani.
- Terwujudnya sistem pertanian semi-organik.
Kegunaan program :
- Penghematan penggunaan pupuk kimia yang harganya cukup mahal untuk para petani, karena adanya komplementasi pupuk kimia dengan vermikompos.
- Vermikompos berperan dalam memperbaiki aerasi dan struktur tanah. Dengan adanya penambahan vermikompos dapat membantu mengatasi kerusakan tanah akibat pemanfaatan pupuk kimia yang terus-menerus akan mempengaruhi kondisi tanah, mulai dari pH, kandungan nutrisi, aerasi, dan sebagainya.
- Cacing pasca pembuatan vermikompos dapat dijual untuk menambah penghasilan petani.
- Buruh tani menjadi terberdayakan.
- Mengurangi limbah/sampah organik berupa kotoran yang dihasilkan oleh ternak milik warga seperti sapi dan kambing dan limbah rumah tangga yang seringkali menimbulkan masalah.
- Produktivitas pertanian meningkat, dilihat dari segi ekonomi, hasil /produk pertanian, dan segi ekologis.
Itu saja, laporan dari saya…
Mohon ditanggapi… (klo ada yg salah2 juga tlg diluruskan)…
Fau, Ihsan, Amet, Narni, Hegar, Nad, Muti, Ryan, Sinta, Eka, Novita, Qori… Edited: sok lah tambahin si Ulan, bisi mewek..

1.
bioter | 22 April 2009 at 15:53
HAHAHA…hancur banget nih postingan…. bisa dimengerti ngga ya…mana tulisan semua lagi..
Bikin males gak sih????!!!???
Intinya mah jawab aja lah
2.
r | 22 April 2009 at 18:15
ngga ti, kalo darurat mah pasti dibaca..
iya nih gmn dong??
apa mungkin kita harus 2 atw 3 kali seminggu kesana gt, buat menyiangi??
mungkin ga kalo lebih dari 2 bulan? jd kita lanjutin yg ada skrg, tp kita overdosisin pestisidanya??
oiya, tanahnya emangnya ga perlu disiramin ya?
segitu dulu ah, baru kepikiran itu aja..
3.
icetea | 23 April 2009 at 08:50
wah klo 2-3 minggu sekali berat euy nampaknya (berat dari segi waktu dan biaya). Klo dioverdosisin mah mati kali (dimana-mana berlebihan jg gak baik kan?) Sebenarnya perlu disiram tapi krn masih musim ujan jd g perlu.
4.
icetea | 23 April 2009 at 08:54
Kemarin sempet ngobrol sama pau… gmn klo kya gini:
Kita tawarkan pada massyarakay siapa yang mau coba pake vermikompos lalu kita sediakan vermikompos beserta prosedur penggunaannya. Untuk masalah pemeliharaan diserahkan sepenuhnya pada masyarakat, paling beberapa minggu sekali qt kontroling u mengetahui perkembangannya..HOW?HOW?
Cuma tantangannya adalah mencari petani yang bersedia…
5.
ngidamjambuairgirl | 23 April 2009 at 11:09
sebenarnya saran pau bagus…cuma penyediaannya bagaimana??? apa kita beli dari pak bambang ato yang kita bwt sendiri….klo dr pak bambang berarti butuh biaya….klo yang kita bikin…belum jadi juga…nah ini juga yang saya bingung??? kok komposnya lama bgt jadinya dah hampir 2 bulan ini…klo saya yang jadi petaninya males bgt deh…
klo mau kita tanam ulang tapi dengan luas lahan yang kecil ajah…satu bedeng 5 tanaman gituh….trus dibuat deh ‘rumah kaca’ dari bambu dan ditutupi plastik transparan…biar terkena matahari….dengan demikian potensi terserang hama dapat diminimalisir….dengan tidak mengacuhkan kesalahan2 kemarin….
itu sih ide dari saya….karena hama itu sebenarnya contageous, makanya harus kita isolasi….buktinya di rumah weda…kol nya tumbuh dengan sejahtera walopun dgn perawatan minim karena:1. lahannya sempit 2. tidak ada hama disekitar3. cukup matahari…
tapi kekurangannya adalah proyek ini menjadi skala pilot, klo mau di aplikasi ke lahan gede yah harus kembali memakai cara konvesional…
hmmm tampak saya bingung sendiri…..
6.
gorgeousME | 23 April 2009 at 11:13
ice tea..
namaku tak tercantum..
T_T
7.
r | 23 April 2009 at 22:32
makanya! blajar baca dulu!!
8.
r | 23 April 2009 at 12:44
pak ikim dulu we atuh sti??
tapi gimana ngontrolnya tuh?
geus we lanjutin..
9.
Hegar | 23 April 2009 at 12:53
Saya pikir, lebih baik dicoba. Apa salahnya untuk mencoba. kalaupun ntar belum sempat dipanen, yang terpenting adalah bagaiamana warga di sana bisa melihat efek yang dihasilkannya. Bener kata Nadia dan Shinta. Ya, paling tidak yang kemarin bisa sebagai salah satu media belajar kita bahwa menjadi petani bukanlah hal yang mudah. membutuhkan estimasi dan perencanaan yang lebih matang. Maaf kalau peran saya kurang di sini.
10.
Hegar | 23 April 2009 at 12:54
Kalau mau memberikan kepercayaan kepada petani sana boleh juga. tapi kita tetap tidak melepaskan kontrol kepada mereka.
11.
gorgeousME | 24 April 2009 at 14:53
@r
huh!
@yang laen
setuju kalo ngobrol2 dulu sama pak ikim. kira2 apa yang salah sama metode kita, padahal kan kita udah nyontek teori di buku, tapi ko mereka yang (kayaknya) praktek langsung sajah bisa berhasil. kita juga ga bisa ngelepas kebun itu ke orang sana gitu ajah (setuju sama hegar!)
^^
12.
gorgeousME | 24 April 2009 at 15:12
@r
huuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuhhhhh!!!!!!!!!
WHATSOEVER!!!
13.
Nadia Fithriani | 29 April 2009 at 19:05
Sebetulnya untuk yang ini sih Nad berharap kita bisa meraih para pemuda di desanya. Harapannya mereka lebih open mind dengan kerjaan kita. Jadi inget waktu acara Pemngabdian Masyarakat Himpunan di Sumedang… Disana ada Aep yang bisa jadi motor sekaligus humas ke masyarakat. Jauh lebih mudah nampaknya untuk dikondisikan.
Jadi setuju dengan usul Fau, cuman yang harus diingat adalah bahwa yang ilibatkan adalah pemuda. Bukannya kita teh dah punya link anaknya pak xxx yang pernah ikut SBT tea kan?
kenapa ga PDTK sama mereka? Kalo sama Pak Ikim lagi… kasian… Pak ikim juga kan kerja. Lagipula mana aspek regenerasinya? Enaknya ajak pemudanya deh… mereka keliatannya bisa lebih diberdayakan. Dan paling gak karena umurnya ga jauh-jau amat sama kita bisa jadi lebih nyambung lah…
Langkah manapun yang diambil intinya kita coba libatkan masyarakatnya lebih banyak lagi.
Ouwhkeyh!
14.
r | 29 April 2009 at 21:57
kayanya harus dirapatin lagi nih..
15.
vertigogirl | 30 April 2009 at 12:54
PDKT???? hmmmm boleh juga!!!!
Siapa itu PAk XXX, anaknya yang asep asep itu bukan????
Kita sudah dapat beberapa pemuda…
1. Ikha, 2. Riani, 3.Asep hehehehe….
(wait a minute….tampak rianikha itu memang sudah takdir….)
16.
elland | 2 March 2011 at 23:33
haduh jujur cape banget bacanya … saya petani ciwidey strawberry dan sayuran , hanya ingin bilang gtu aja ko re’pot .. hhheee…