Archive for March, 2009
Kala Para Bioter Bermakan
Di bawah ini adalah beberapa orang Bioter yang tersedia:
Orang berdarah Padang dengan logat yang kental (sehingga disukai Pak Badri) ini diketahui bernama Ihsan. Saat foto ini diambil, kemungkinan besar ia sedang memikirkan suatu jenis ikan yang akan dimakannya (dan akan dibayarnya dengan penuh penyesalan karena mengetahui harganya yang cukup mahal).
Orang inilah yang memegang peranan penting dalam proyek Bioter di Panyandaan karena ia memegang amanah sebagai ketua proyek (tentunya yang lain juga tidak kalah penting). Namanya diketahui adalah Isti. Mobilnya yang memiliki keunikan tersendiri sering menjadi tumpangan massal para Bioter.
Geliat dan ekspresi orang yang diketahui bernama Ulan ini menunjukkan bahwa ia sedang menerima/mengirim pesan singkat dari telepon selularnya dari/untuk seseorang yang tidak diketahui siapa identitas orang itu sebenarnya. Hingga kini masih menjadi bagian dari misteri alam semesta ini.
Orang yang dekat dengan anak-anak Panyandaan ini memang terlahir dengan nama Fauzia, tapi ia lebih sering dipanggil Faufau atau Paupau. Namun, dengan adanya suatu snack/makanan ringan (yang dimakan beramai-ramai di kebun brokoli dalam waktu yang relatif singkat), kemungkinan ia akan dipanggil Powpow.
Di foto ini, orang yang oleh orang tuanya diberi nama Novi ini tampak sedang bingung karena memikirkan hadiah ulang tahun apa yang akan diterimanya. Ataukah mungkin di hari ulang tahunnya ia akan dijodohkan dengan seseorang yang tidak diinginkannya sehingga ia gelisah? Ini pun menjadi misteri.
Orang yang katanya mengaku sedang sakit ini tampak sedang meminum teh yang tidak menggunakan es demi menjaga kualitas tenggorokannya. Ia yang bernama Shinta ini dekat dengan anjing-anjing Panyandaan sehingga mungkin di masa depannya ia akan menjadi pebisnis anjing yang sukses.
Orang yang mempunyai dualisme nama panggilan ini (sebut saja Wida) mempunyai sahabat dekat, yaitu seorang gadis desa (sebut saja Ikha). Kedekatannya dengan sahabatnya membuat ia diundang untuk menginap di rumah sahabatnya tersebut yang tampaknya akan diadakan pajama party disana.
Keterangan tambahan:
Foto-foto ini diambil tadi, jam isya-an, setelah kita kontrol mingguan (vermikompos dan pemupukan brokoli) dari Panyandaan dan kita memutuskan untuk makan malam bersama di daerah Sukajadi, di suatu tempat yang cukup berkelas, menguras kantong, dan penuh sesak (parkiran dan ruang makannya) yang belakangan ini diketahui tempat tersebut bernama D’Cost yang katanya harganya kaki lima tapi tetap saja kemahalan sehingga pada saat itu kami mengeluarkan isi dompet sebesar total 140 ribuan namun untuk 10 orang dengan beberapa orang masih ngutang untuk menu-menu yang telah kami pesan yaitu berupa ikan patin bakar, cumi-cumi (ada 2 jenis), udang lada hitam, kerang bambu saus padang, kangkung dan sejenis sayuran, serta minuman-minuman berupa teh manis dan tawar (hangat dan es) yang dapat ditambah sepuasnya dan dihargai hanya Rp 100 untuk teh tawar sepuasnya yang dipesan tambahannya oleh Hegar (tidak ikut terfoto karena saat itu sedang solat dan saat dia selesai solat, yang memfotonya sedang sibuk makan), selain itu 2 orang lainnya pun tidak ikut terfoto yaitu Ahmad (saat itu sedang solat bersama Hegar) dan Rian dari total 10 orang yang ikut hari ini.
Ketika Daun Diukur
Di saat Hegar dan Ihsan hujan2an, gelap2an, menanam brokoli di luar sana, sisanya (3 orang) ngukur 36 bibit untuk mengetahui rata2 keadaan bibit dari sekitar 200 bibit yang ditanam. Data yang diukur adalah warna daun, jumlah daun, panjang daun terbesar, dan panjang terkecil. Dimulai sekitar magrib; kami melakukannya di rumah Pak RW. Selain bantuan berupa makanan yaitu mi rebus dengan merk sarimi yang ditambah dengan telor (dari total 5, tampak 3 mangkuk di foto, sisanya ketutupan Wida), kami pun mendapat bantuan teknis dari Ikha.
Sekian infonya.
Semoga bermanfaat.
Kegigihan Petani Sukses!
Assalamualaikum Wr Wb
Teman teman bindes…saya mau sharing tentang monitoring kemarin…
Tanggal 21 Maret 2009 kemarin beberapa anggota bindes (yaitu Hegar, Ikhsan, Ryan, Weeda, dan Shinta) melaksanakan monitoring sekaligus memulai penanaman bibit brokoli.
Jadi, kami membagi kelompok menjadi 2 tim, tim pengaduk vermikompos dan tim penanam bibit. Nah…pada jam 15.00 tim pengaduk yang terdiri dari Weeda n Shinta telah sampai di desa Panyandaan, kemudian kami segera menuju ke rumah Pak RW, sesampainya di rumah.. Pak RW nya ndak ado….ya suuudah kita langsung ke rumah Pak Ikim untuk mengaduk vermikompos….
Setelah duduk, minum teh, makan pisang, dan berbincang, eeeehhhhh ternyata diketahui bahwa vermikompos udah di balik / di aduk oleh warga….(cihuiiiii….). Jadi pengadukan pertama telah dilakukan pada hari Kamis dan akan dilanjutkan pengadukan kedua pada hari Minggu yang kebetulan kita semua tidak bisa datang…..(Bapak Ikim…..kami percaya padamu…..)
Tidak lama kemudian (45 menit) Rian aka Mas Qomar datang ….dan kami pun melihat kondisi vermikompos yang konon kabarnya telah menyusut menjadi setengahnya….ini dia fotonya……

Ket: kompos yang sudah berumur 7 hari…dan telah diaduk mengalami penyusutan volume menjadi ½ volume awal…

Ket: kompos berubah warna dan struktur (terfermentasi), keluar uap panas….
Setelah foto-foto, kita kembali ke rumah Pak Ikim ….duduk, minum teh, makan pisang, dan bercengkrama…..tidak lama kemudian (30 menit) rombongan Hegar dan Ikhsan datang lalu kamipun duduk, minum teh, makan pisang, dan berbincang tapi cuma sebentar….lalu kami memutuskan untuk segera menjadi petani sukses alias menanam bibit….karena tim pengaduk tidak jadi mengaduk…kami putuskan untuk mambantu tim penanam…..
Sesampai d lahan….semua tim beraksi meminjam peralatan dan membawa bahan bahan yang diperlukan ex: pupuk…
Ternyata oh ternyata hujan datang tak diundang, semakin lama semakin besar pulak…..yah karena profesional kita terus lanjut…..(the show must go on, katanya Hegar mah…) mulai lah bang Hegar dan Ikhsan mencangkul lahan….Weeda dan Shinta menyiapkan pupuk….Mas Qomar……???? ah ya……menyebarkan pupuk ke tiap bedeng…. satu demi satu bedeng pun terpupuki….
Jadi terdapat 12 bedeng dengan keterangan sebagai berikut:
- BDG 1-2 diberi pupuk kompos @400gr
- BDG 3-4 diberi pupuk kompos @300gr + kimia @100gr
- BDG 5-6 diberi pupuk kompos @200gr + kimia @200gr
- BDG 7-8 diberi pupuk kompos @100gr + kimia @300gr
- BDG 9-10 diberi pupuk kimia @400gr
- BDG 11-12 diberi pupuk kompos @400gr
Nb: entah BDG 1-2 atau 11-12 yang diberi perlakuan khusus (hanya Hegar dan Ikhsan yang tau…..)
Di tengah kegiatan Hegar memberi amanat kepada kedua teman saya Weeda dan Mas Qomar untuk mengukur menghitung panjang dan jumlah daun bibit sebanyak 36…dengan asusmsi 3 bibit tiap bedeng…..namun terjadi reduksi informasi sehingga kedua orang ini mengira tiap bedeng hanya menanam 3 bibit…..ternyata maksud bang Hegar adalah…..pokoknya yang ditanam 200 bibit ajah….bukan 36 bibit (he2…..)
Haripun semakin gelap….tapi kami tetap menanam …bang Hegar dan Ikhsan (seperti biasa……) mulai menancapkan bibit ke tanah yang telah diberi pupuk….saya pun tersadar dan ikut menanam (akhirnya…..) Weeda memberi bibit pada kami…..Mas Qomar….????? ah ya…..dokumentasi…..

Ket : Mas Hegar nanam bibit….

Ket : semua tim begotong royong menanam bibit, bersatu…. kita cepat pulang……

Ket : Juru poto, Mas Qomar tampak depan….
Tanpa terasa semua bibit telah tertancap……dan hari sudah larut…..waktunya untuk petani sukses kembali ke rumah……greeeeeeng…….melintasi jalanan lembang yang gelap gulita diliputi dingin yang mencekam…..

Ket : semua bibit dah tertancap pada tempat yang telah ditentukan…..

Ket: Selesai juga menanamnya… fiuhh….semua tim merasakan kepuasan yang tiada duanya……Yatta…..!!!!!!
Thanks to:
Pak Ikim cs, yang telah mengaduk vermikompos…. serta memberi teh dan pisang…..
Ibu RW yang telah membuatkan Indomie dan menyediakan teh hangat untuk para petani sukses yang dilanda kedinginan dan kelaparan…..
Jeng Riani (anak Pak RW) dan Jeng Ikha yang telah setia memayungi, membantu, dan menemani kami bertani d malam hari (kegilaan no 46…kata Hegar mah…..)
Oh ya katanya Pak Ikim dan Pak Badri (iya gitu???) ingin membuat vermikompos lagi…..gmn teman-teman?????
Sekian Laporan dari Saya, maaf kalo kayak curhat dan banyak kekurangannya…..semoga kegiatan kita mendapat ridho dari Allah SWT….amieeeeeen…..
Guys…..FIGHTING!!!!!!!!!!!!!!
Galeri Panyandaan Part I

Foto bareng anak-anak pagi-pagi.. Tp kok lakinya dikit ya? Pada kemana nih.. Hm..

Makan rame-rame di teras depan rumah Abah a.k.a. Aki. Ini sebelum praktek ngomposnya dimulai. Menunya macem-macem.. Ikan asin, tempe, ayam suwir, tahu, masakan Jogja (lupa namanya), dll sampe DJENGKOL juga ada!!

Habis makan siang, kita mulai ngompos. Pak Badri ikut ngeliatin juga cara bikinnya. Gayanya dong.. Mantep banget ya si bapak..

Ga mo kalah ama Pa Badri, kita para Bioter juga ikut nyimak Pa Zamzam cara bikin kompos. Tp ga cm nyimak, kita juga bantu2 dong.. Ho3..

Roepanja benar kata orang toea kita: djangan main pisaoe!!! La ini si Narni kebacok ama golok! Kronologinya pas dia lagi bantuin nyacah2 daun pake golok. Katanya saat itu dia lagi ga ngeliat/sambil ngobrol! Walhasil, golok menancap di jari tengahnya dan darah segar pun mengucur dengan deras, Bung! Disuntik tetanus lah ia akhirnya di klinik. Kasihan kau Nak.. Cepet sembuh ya.. He2..
Pemanfaatan Vermikompos di Panyandaan
Alhamdulillah..
Pada 14-15 Maret 2009, Bioter telah mulai melaksanakan kembali amanahnya sebagai organisasi yang bergerak di bidang kebiologiterapanan (heu euh da ngaranna ge Bioter!! :p).
Jadi.. Pada hari itu kuturut ayah ke kota, eh, kita para Bioter melakukan pelatihan penerapan vermikompos di desa binaan kita yaitu Desa Panyandaan.
Rencananya kegiatan ini akan dilaksanakan sampai bulan Juni 2009.
Yang 2 hari kemaren tuh baru langkah awal aja.
Tim kita (beberapa tidak masuk di foto karena ada yang udah pulang dan ada 1 orang yang motonya jadi dia ga ikut kefoto) ditambah Aki dan 1 anak (lupa namanya.. he2..):

Pada hari pertama kita mengadakan sharing apa sebenarnya vermikompos itu, dan bagaimana cara membuatnya.
Pembicaranya adalah Pak Zamzam:

Sementara pada hari ke-2, kita dan beberapa warga langsung praktek di lapangan!
Untuk membuat kompos dengan bantuan cacing ini, kita memakai bahan-bahan yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar desa.
Tanpa modal uang lah.. (paling kita beliin plastik trash bag untuk penutup, dan kalo ga ada pun, bisa pake daun pisang).
Sumber C nya kita pakai daun-daun dan batang-batangan dan sumber N nya kita pakai kotoran sapi yang diencerkan (hmm,, terlihat seperti jus alpukat lho.. yummy.. [hoek!!]).
Btw saya kecipratan dikit loh.
Inilah dia jus alpuket kita yang kalo dijual di gelap nyawang kayanya bakal ga laku:

Kemudian ditumpuk-tumpuklah itu semua bahan-bahan secara berselang-seling.
Daun-daun, ee sapi liquid, daun-daun, ee sapi liquid, dst sampai akhirnya pada tumpukan teratas ditutup oleh daun-daun kembali. (kebayang lah ya kalo tumpukan teratas adalah kotoran sapi..).
Upacara tabur daun:

Perayaan tuang ee:

Tumpuk-tumpuk kita berakhir sampai ketinggiannya kira-kira 1 meter.
Trus kita coveri dengan plastik trash bag biar terhindar dari serangan air hujan:

Selesai deh pelatihan kita untuk 2 hari itu.
Rencananya kita akan melakukan pengontrolan setiap minggu untuk mengetahui perkembangan kompos itu.
Jika sesuai dengan rencana, pada 2 minggu kemudian seharusnya cacing-cacing yang lucu itu sudah bisa untuk dimasukkan ke dalam kompos supaya komposnya makin sip tentunya.
Sekian dulu aja laporannya, kalo ada apa-apa ntar saya kabari lagi.
Yah, mudah-mudahan kompos ini bisa menjadi salah satu solusi untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia yang biasa digunakan oleh para petani disana.
Selain itu tentu saja kita harapkan hasil pertanian mereka akan meningkat secara kualitas maupun kuantitasnya.
Lebih-lebih lagi, pembuatan kompos ini mudah-mudahan dapat digunakan sebagai alternatif pengolahan sampah organik, karena dari informasi yang diberikan Pak Zamzam, hasil kompos hanya sekitar 10-40% dari keadaan semulanya (misalnya kita kan kemaren numpuk 1 meter, nah paling yg jadi kompos mah 25 cm lah).
See? Pastinya bisa kan ngurangin jumlah sampah, dan malah bisa dipake buat pupuk!
Semoga langkah kecil kita bisa bernilai untuk kemajuan masyarakat dan semoga menjadi amal ibadah kita semua! Amin!
(Untuk Anda yang membutuhkan informasi tentang cara pembuatan vermikompos secara sederhana, bagan dan gambarnya bisa diperoleh disini: Brosur Vermikompos.)


5 Komentar Terakhir